Perempuan berusia 61 tahun asal Distrik Ilwayab, Kampung Wogekel, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Mama Yasinta Moiwend mengungkapkan kekecewaannya terhadap film dokumenter “Pesta Babi” karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale , yang diproduksi oleh Watchdoc Documentary.
Tokoh perempuan adat yang dikenal aktif menyuarakan penolakan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan atau food estate, tiba-tiba muncul dalam video yang diunggah oleh beberapa media, salah satunya iNews, media dibawah naungan MNC Group yang dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo.
Pada video yang beredar, Mama Yasinta menyatakan dirinya tak pernah memberi izin untuk ditampilkan dalam poster dan film “Pesta Babi”
“Kecewa itu, terhadap film Pesta Babi. Itu tanpa izin dari saya, tanpa pengetahuan dari saya, saya kaget waktu di jayapura mereka putar, kok saya ditampilkan di depan?” ujar Mama Yasinta dalam video yang diunggah di platform TikTok @officialinews dengan judul yang sensasional “EMOSI! Merasa Dibohongi, Mama Sinta: Hentikan Film “Pesta Babi”!
Padahal sebelumnya Mama Yasinta beberapa kali memberikan pengakuan terkait dampak PSN food estate di Papua.

“Kita harus melawan, seperti saya. Karena apa? Kami yang lahirkan di atas tanah ini, lahirkan segala-galanya yang ada di bumi ini. Harus kuat, apapun yang terjadi didepan kita, kita harus lawan! Dari 2024-2026 saya masih bertahan untuk perjuangan tanah kami se-Papua” jelasMama Yasinta dalam salah satu acara film “Pesta Babi” yang sudah jelas ia berdiri didepan poster film tersebut.
Hal ini membuat publik bingung karena ketidak selarasan ucapan Mama Yasinta yang lalu dan yang sekarang. Beberapa netizen menelan mentah-mentah informasi yang mereka dapatkan tanpa mencari tahu lebih dalam, karena SEO dan algoritma sosial media saat ini dengan mudah dapat dikendalikan oleh Kementrian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI). Media oposisi seringkali tertutup dengan media yang menjadi alat untuk “cuci tangan” pemerintah, bahkan secara terang-terangan.
Namun, beberapa publik yang kritis juga menyadari kejanggalan ini, beberapa dari mereka bertanya: apakah ini benar suara murni dari Mama Yasinta, atau ada rencana terselubung untuk mempengaruhi opini publik. Karena Mama Yasinta selama ini kerap dikenal sebagai salah satu rakyat Papua yang cukup vocal sejak 2024 terhadap isu proyek food estate, hutan, dan tanah di Papua Selatan.
Sutradara film “Pesta Babi”, Dandhy dan Cypri, turut angkat bicara terkait polemik ini. “Kawan-kawan semua, kita tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami Mama Yasinta Moiwend di pedalaman Papua Sana. Apa pun yang muncul di media sosial, sepertinya kita perlu menahan diri untuk tidak menghakimi beliau,” kata Dandhy

Dhandy Laksono juga menyatakan bahwa Mama Yasinta berhak membuat keputusan apa pun.
“Bahkan jika semua yang disampaikan murni atas kehendak sendiri, bukankah setiap orang berhak membuat pilihan,”
ucap Dandhy
Dengan adanya dugaan intervensi terhadap Mama Yasinta, membuat bebrapa publik semakin yakin bahwa pemerintah takut dan mencoba membungkam media yang mencoba menyampaikan fakta tentang kondisi Papua saat ini yang ada dalam film ‘Pesta Babi”.

